1. Pendahuluan
Pendidikan jarak jauh atau biasa disingkat dengan PJJ merupakan hal yang sudah tidak asing lagi di Indonesia. PJJ banyak dipergunakan oleh guru maupun dosen untuk memberikan bahan ajar bagi siswa ataupun mahasiswanya. Dikarenakan media PJJ yang bermacam – macam maka Indonesia sudah mengalami perkembangan dalam bidang pendidikan jarak jauh yang cukup pesat.
PJJ menjadi sistem pengajaran yang cukup efektif akan tetapi keefektifannya tergantung kepada peserta didik dan juga pengajar itu sendiri. Media pembelajaran PJJ yang digunakan juga menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan peserta didik selama mengikuti PJJ. Selain itu terdapat faktor lain yang juga bisa dijadikan penentu keberhasilan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran PJJ antara lain yaitu interaksi, pembelajaran aktif dan gambaran visual.
Disini, penulis akan membahas tentang keefektifan PJJ terhadap pemahaman belajar peserta didik dan juga terhadap prestasi peserta didik itu sendiri.
2. Sejarah pendidikan terbuka dan jarak jauh
Rencana Pembangunan Lima Tahun yang pertama (REPELITA I), pada April tahun 1969 dimula langkah pertama pembangunan tersebut. Data yang digunakan di dalam rencana pembangunan nasional tersebut masih kurang memadai, termasuk didalamnya rencana pembangunan pendidikan nasional. Disadari bahwa pendidikan nasional pada waktu itu membutuhkan penanganan yang serius namun porsi alokasi pembangunan sektor pendidikan di dalam pembangunan nasional masih sangat kecil. Meskipun rencana pembangunan sudah mulai dilaksanakan pada 1April 1969, Pemerintah menyadari suatu keharusan memperoleh suatu gambaran yang menyeluruh dan lebih akurat mengenai keadaan pendidikan nasional.
Dalam kaitan ini dilaksanakan Seminar Nasional mengenai pendidikan yang dikenal sebagai Konperensi Cipayung pada tanggal 28-30 April 1969 ketika 100 orang pakar dari berbagai disiplin mengindentifikasikan beragam masalah pendidikan nasional. Salah satu implikasi dari Konferensi Cipayung ialah lahirnya Proyek Penilaian Nasional Pendidikan (PPNP) I pada 1 Mei 1969. Proyek ini telah menghasilkan suatu gambaran menyeluruh mengenai pendidikan nasional. Salah satu strategi yang perlu dikembangkan adalah bagaimana sistem pendidikan nasional yang ada dapat menampung kebutuhan pendidikan yang semakin lama semakin meningkat. Artikel ini menunjukkan beberapa kondisi yang menunjang lahirnya pendidikan terbuka dan jarak jauh (PTJJ) di Indonesia serta berbagai faktor pendukung dalam pengembangannya sampai pada pertengahan dekade 80-an atau akhir PELITA III.
Pada masa itu sudah terdapat berbagai kursus tertulis yang diselenggarakan melalui pos seperti kursus pemegang buku (Boekhoulding) serta beragam kursus bahasa asing (misalnya Belanda dan Inggris). Kesempatan dan sarana pendidikan yang kurang memadai telah mendorong lahirnya bermacam jenis pendidikan alternatif tersebut di samping adanya kursus tatap muka. Disamping itu terdapat berbagai kondisi yang menunjang perkembangan dari PTJJ di Indonesia.
3. Definisi pendidikan jarak jauh
Definisi PJJ menurut beberapa ahli adalah:
a) Suatu bentuk pembelajaran mandiri yang terorganisasi secara sistematis, dimana konseling, penyajian materi pembelajaran, dan penyeliaan serta pemantauan keberhasilan siswa dilakukan oleh sekelompok tenaga dosen yang memiliki tanggung jawab yang saling berbeda. Pembelajaran dilaksanakan secara jarak jauh dengan menggunakan bantuan media (Dohmen,1967).
b) Suatu metode pembelajaran yang menggunakan korespondensi sebagai alat komunikasi antar tenaga dosen dengan siswa, ditambah dengan adanya interaksi antar siswa dalam proses pembelajaran (Mackenzie, Christensen, & Rigby, 1968).
c) Sistem pendidikan yang tidak mempersyaratkan adanya tenaga dosen di tempat seseorang belajar, namun dimungkinkan adanya pertemuan-pertemuan antara tenaga dosen dan siswa pada waktu-waktu tertentu (French Law, 1971).
d) Suatu metode untuk menyampaikan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dikelola berdasarkan pada penerapan konsep ban berjalan (division of labor), prinsip-prinsip organisasi, dan pemanfaatan media sevata ekstensif terutama dalam reproduksi bahan ajar, sehingga memungkinkan terjadinya proses pembelajaran pada siswa dalam jumlah banyak pada saat bersamaan dimanapun mereka berada. Merupakan suatu bentuk industri dari belajar dan dosenan (Peters, 1973).
e) Suatu metode pembelajaran dimana proses dosenan terjadi secara terpisah dari proses belajar, sehingga komunikasi antara tenaga dosen dan siswa harus difasilitasikan melalui bahan cetak, media elektronik, dan media-media lainnya (Moore, 1973).
f) Suatu bentuk pendidikan yang meliputi beragam bentuk pembelajaran pada berbagai tingkat pendidikan yang terjadi tanpa adanya penyeliaan tutor secara langsung dan atau terus menerus terhadap siswa dalam lokasi yang sama, namun memerlukan proses perencanaan, pengorganisasian dan pemantauan dari suatu organisasi pendidikan, serta penyediaan proses pembimbingan dan tutorial, baik dalam bentuk langsung (real conversation) maupun simulasi (simulated conversation) (Holmberg, 1977).
Dari berbagai macam definisi PJJ menurut para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa PJJ adalah suatu bentuk sistem pembelajaran yang memungkinkan peserta didik memperoleh ilmu dengan tidak harus bertatap muka langsung dengan pengajar. Tatap muka akan tetap dilaksanakan sesekali hanya untuk meninjau keadaan peserta didik, apakah peserta didik ada kesulitan dalam mempelajari materi, dan masalah-masalah lainnya. Komunikasi antara pengajar dengan peserta didik dilakukan melalui media PJJ itu sendiri, tergantung pada media apa yang dipilih. Media yang digunakan dalam PJJ hendaknya juga tidak memberatkan peserta didik, sehingga PJJ bisa dijadikan solusi bagi peserta didik yang tidak mempunyai kemungkinan untuk mengikuti pendidikan konvensional.
4. Efektifitas pendidikan jarak jauh terhadap pemahaman belajar peserta didik
Pendidikan jarak jauh merupakan suatu system yang sangat cocok diterapkan di Indonesia dikarenakan Indonesia adalah negara yang cukup luas dan terdiri dari beribu-ribu pulau. Keadaan geografis Indonesia ini menjadi salah satu faktor ketidakmerataan pendidikan di Indonesia karena pendidikan sulit didapatkan di tempat-tempat terpencil yang berada di wilayah Indonesia. Selain keadaan geografis Indonesia tersebut, faktor ketersediaan pengajar di Indonesia juga masih bisa dibilang kurang untuk memenuhi tuntutan pendidikan yang ada di Indonesia. Masyarakat Indonesia pun tidak semuanya bisa mengikuti pendidikan konvensional, mereka mungkin akan lebih mementingkan pekerjaan dibandingkan dengan sekadar mengenyam pendidikan. PJJ merupakan solusi dari permasalahan pendidikan di Indonesia tersebut. Dengan PJJ, masyarakat bisa memperoleh pendidikan dengan cara yang mudah dan tidak akan mengganggu pekerjaan mereka.
PJJ harus dibuat sedemikian rupa sehingga tidak memberatkan peserta didik. PJJ hendaknya dikemas semenarik mungkin sehingga peserta didik mempunyai semangat dalam menuntut ilmu, dan juga tidak mengalami kebosanan dengan sistem pembelajaran tersebut. Dikarenakan model pembelajaran PJJ yang tidak bertemu dosen secara intensif, sangat dimungkinkan jika peserta didik akan mengalami kebosanan dalam mempelajari matesi pembelajaran. Media menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan PJJ terhadap pemahaman belajar peserta didik pada suatu materi pembelajaran. PJJ seharusnya tidak hanya diberikan lewat tutorial, tatap muka langsung dengan pengajar juga sangat diperlukan.
Selain beberapa faktor diatas, faktor intern dari peserta didik juga menjadi salah satu penentu keberhasilan PJJ. Faktor intern ini bisa berupa:
a) kemauan belajar peserta didik,
b) kemandirian peserta didik dalam melaksanakan pendidikan jarak jauh,
c) keaktifan peserta didik selama mengikuti pembelajaran, interaksi antara pengajar dengan peserta didik, dan
d) rasa keingintahuan peserta didik terhadap materi pembelajaran yang sedang dipelajari.
Pelaksanaan PJJ bukan tanpa halangan. Di Indonesia sendiri, PJJ masih terlihat sulit diterima dikarenakan kesan yang terlihat dalam PJJ adalah sama saja seperti belajar sendiri. Padahal, jika memang PJJ dilakukan sesuai aturan yang ada peserta didik sangat tidak mungkin belajar sendiri dikarenakan ada pengajar tetap yang sesekali akan memantau peserta didik. Materi yang digunakan pun berasal dari pengajar, sangat jauh berbeda dengan belajar sendiri yang mencari materi sendiri dan tanpa ada pengajar yang memantau perkembangan belajar.
Kemandirian peserta didik akan sangat terlihat pada saat ada tugas yang diberikan. Dikarenakan kemungkinan untuk bertemu pengajar sangat sedikit maka peserta didik harus mempunyai strategi sendiri dalam pembelajaran dengan sistem PJJ ini. Interaksi juga sangat diperlukan peserta didik sangat dianjurkan untuk menjalin komunikasi yang baik dengan pengajar demi tercapainya tujuan pembelajaran.
Keefektifan PJJ terhadap pemahaman belajar peserta didik menjadi salah satu faktor pertimbangan penerapan PJJ untuk pendidikan jangka panjang. Memang bukan hanya faktor pengajar dan system pembelajarannya saja yang berpengaruh, tetapi kedua hal tersebut turut mendorong faktor yang lain yaitu tingkat keingintahuan dan juga kemandirian dari peserta didik. Penentuan efektif atau tidaknya PJJ untuk digunakan dalam pembelajaran sangat tergantung pada peserta didik. Jika pengajar sudah memberikan yang terbaik untuk proses pembelajaran dan peserta didik tetap saja tidak mempunyai rasa keingintahuan dan juga kemandirian maka semua itu akan sia-sia dan bisa dikatakan bahwa PJJ tidak efektif untuk pembelajaran.
Penilaian keefektifan PJJ tidak bisa dilakukan menyeluruh pada suatu negara, akan tetapi lebih baik dilakukan pada tingkatan daerah karena SDM yang ada di daerah yang satu dengan lainnya mungkin akan berbeda. Pada cakupan sebuah negara yang besar seperti Indonesia, sangat tidak mungkin SDM yang ada akan empunyai kemampuan yang sama.
Jadi, bisa dikatakan keefektifan PJJ terhadap pemahaman belajar peserta didik sangat bergantung pada individu yang menjadi peserta didik. PJJ bisa dikatakan efektif jika kebenyakan peserta didik berhasil dengan model pembelajaran ini. Semuanya dikembalikan lagi kepada pelaksana PJJ, baik pengajar maupun peseta didik.
5. Efektifitas pendidikan jarak jauh terhadap prestasi peserta didik
Pada era sekarang ini, PJJ sudah bukan hal asing lagi dilakukan untuk pembelajaran di sekolah yang notabene merupakan lembaga pembelajaran konvensional. Media PJJ yang digunakan pun sudah semakin modern seiring perkembangan teknologi yang sangat pesat.
Keefektifan PJJ terhadap prestasi peserta didik pun kembali dipertanyakan. Apakah peserta didik akan memahami materi yang disampaikan? Sementara selama ini mereka cenderung menerima materi dengan pembelajaran konvensional. Pada peserta didik yang menjalani PJJ dan juga menerima materi langsung dari pengajar, biasanya mereka cenderung belum bisa menerima system PJJ ini. Pada kali pertama mereka mengikuti PJJ mereka mungkin akan gagal, tapi tidak menutup kemungkinan ada peserta didik yang langsung bisa mengikuti ritme pembelajaran pada PJJ.
Untuk peserta didik yang sulit menyesuaikan, PJJ mungkin akan sangat membebani, untuk itu peran pengajar sangat diperlukan dalam hal ini. Jangan langsung menerapkan PJJ kepada peserta didik, tetapi diperlukan pengenalan terlebih dahulu. Oleh karena hal itu, PJJ kurang efektif untuk meningkatkan prestasi peserta didik.
6. Daftar Acuan
http://solveandshareit.wordpress.com/2013/07/16/efektifitas-pembelajaran-jarak-jauh-terhadap-tingkat-pemahaman-siswa-dalam-pembelajaran/ (diakses pada tanggal 19 Agustus 2013)
http://reithatp.blogspot.com/2012/01/lahirnya-pendidikan-jarak-jauh-di.html (diakses pada tanggal 19 Agustus 2013)
SEAMEO SEAMOLEC. 2012. Bahan Ajar KDPJJ Topik 1 – Konsep PJJ. Jakarta: SEAMEO SEAMOLEC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar